LITERASI DIGITAL DAN ETIKA PENGGUNAAN DATA:
ANALISIS MENDALAM KASUS KEBOCORAN DATA TOKOPEDIA 2020 DAN
REFLEKSI ERA DIGITAL
Pendahuluan
Literasi digital merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki setiap individu di era
digital guna mengelola informasi secara efektif dan bertanggung jawab. Seiring perkembangan
teknologi dan keilmuan sains data, literasi digital telah berevolusi menjadi sebuah kompetensi
yang lebih kompleks, mencakup pemahaman data, serta pengelolaan etika dalam penggunaan
data. Kasus kebocoran data Tokopedia pada tahun 2020 memberikan gambaran nyata atas
tantangan perlindungan data dan penerapan literasi digital dalam dunia nyata. Esai ini akan
mengeksplorasi konsep literasi digital dan sains data, menganalisis secara mendalam kasus
kebocoran data Tokopedia, serta merefleksikan pentingnya kesadaran etika digital sebagai
landasan bagi masyarakat informasi modern.
Pembahasan
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, melainkan
kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, menginterpretasikan, serta memanfaatkan
informasi digital secara kritis dan etis. Menurut Paul Gilster (1997), literasi digital adalah
kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber berbasis
teknologi digital. Dalam konteks sains data, literasi digital berkembang menjadi literasi data,
yaitu kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami, dan mengomunikasikan data dengan
efektif untuk pengambilan keputusan berbasis bukti. Literasi data menjadi unsur penting di era
yang dipenuhi big data, di mana penguasaan analisis data dan visualisasi data mendukung
inovasi dan pengembangan solusi dari suatu permasalahan secara optimal.
Pengembangan literasi digital dalam sains data juga menuntut pemahaman
multidimensi—mulai dari alat dan sistem yang digunakan, konteks sosial budaya yang
memengaruhi, sampai pada aspek etika dalam berbagi dan pemanfaatan data. Pendidikan
literasi digital yang menyeluruh dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya mahir
secara teknis, tetapi juga memiliki kecakapan berpikir kritis, kreativitas, serta kepedulian
sosial.
Insiden kebocoran data Tokopedia yang terungkap pada tahun 2020 melibatkan sekitar
91 juta akun pengguna dan 7 juta merchant yang terdampak. Data pribadi yang bocor meliputi
nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, dan password yang di-hash namun rentan
terhadap pembobolan (cracking). Pelaku berhasil menyusup ke sistem dan menjual data
tersebut di dark web dengan harga terjangkau, memicu kekhawatiran luas di masyarakat.
Akar masalah kebocoran ini melibatkan dua aspek utama: teknologi dan perilaku. Secara
teknis, kerentanan terletak pada sistem keamanan yang kurang kuat, seperti enkripsi data yang
tidak memadai, tidak adanya mekanisme deteksi dini serangan, dan kurangnya pembaruan rutin
sistem keamanan. Di sisi perilaku, lambatnya respons Tokopedia atas insiden tersebut serta
kurangnya transparansi kepada publik dan pengguna memperparah dampak psikologis dan
sosial dari kebocoran ini.
Prinsip literasi digital yang relevan dalam kasus ini mencakup penguatan kesadaran
pengguna tentang pentingnya keamanan data pribadi, misalnya melalui penggunaan password
kompleks dan autentikasi dua faktor. Di tingkat organisasi, penerapan literasi digital internal
dapat berupa pelatihan karyawan mengenai keamanan siber, audit sistem berkala, serta
komunikasi terbuka kepada pengguna saat terjadi masalah keamanan. Jika prinsip-prinsip ini
dipatuhi, risiko kebocoran dapat diminimalkan dan kepercayaan pengguna tetap terjaga.
Era digital membawa kemudahan akses informasi sekaligus risiko penyalahgunaan data
yang besar. Oleh karena itu, etika digital menjadi pilar utama dalam menjaga integritas, privasi,
dan hak pengguna dalam ranah digital. Dalam kasus Tokopedia, ketidakpatuhan terhadap etika
digital terlihat dari kelambanan dan minimnya transparansi yang berujung pada kerusakan
kepercayaan publik. Etika digital menuntut bahwa setiap entitas digital bertanggung jawab atas
keamanan data pengguna dan memberi perlindungan maksimal secara proaktif.
Literasi digital berperan penting dalam membekali masyarakat agar mampu menghadapi
tantangan disinformasi, penyalahgunaan data, dan kesenjangan akses teknologi. Program
literasi digital nasional Indonesia, yang menitikberatkan pada empat pilar (cakap digital, aman
digital, budaya digital, dan etika digital), menjadi landasan bagi pengembangan masyarakat
digital yang kritis dan etis. Dengan literasi digital yang kuat, individu mampu memilah
informasi valid dari hoaks, memahami implikasi penggunaan data, serta berpartisipasi dalam
ekosistem digital secara bertanggung jawab.
Penguatan literasi digital tidak hanya sebagai alat edukasi, tetapi juga sebagai strategi
pertahanan nasional menghadapi ancaman siber dan inovasi digital global. Kesadaran etika
digital yang dibangun dari literasi ini menjadi modal utama untuk membangun harmoni sosial
dan keamanan dalam interaksi digital yang terus berkembang.
Penutup
Kasus kebocoran data Tokopedia pada tahun 2020 menjadi peringatan keras bagi dunia
digital di Indonesia bahwa perlindungan data pribadi harus diprioritaskan dengan serius oleh
semua pihak. Literasi digital yang mencakup kemampuan teknis dan kesadaran etika terbukti
menjadi pondasi utama untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan berkeadilan.
Dalam dunia yang semakin didominasi oleh data dan teknologi, literasi digital harus
diselaraskan dengan pemahaman mendalam tentang etika penggunaan data agar tidak terjadi
penyalahgunaan yang merugikan pengguna maupun masyarakat luas.
Pengalaman dari kebocoran data Tokopedia menegaskan bahwa tanggung jawab
keamanan data tidak hanya berada di tangan penyedia platform, tetapi juga harus dibarengi
dengan kesadaran pengguna dalam melindungi informasi pribadinya. Oleh karena itu,
penguatan literasi digital yang meliputi aspek teknis, kritis, dan etika sangat penting untuk
menghadapi tantangan era informasi yang terus berkembang cepat. Dengan literasi digital yang
cukup dan etika yang kuat, masyarakat akan mampu menghadapi dan mengantisipasi risiko
penyebaran informasi palsu, pelanggaran privasi, dan ketimpangan akses digital secara lebih
bijak dan bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
CNBC Indonesia. (2020, Mei 3). Cerita lengkap bocornya
91 juta data akun Tokopedia. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200504063854-37-155936/cerita-lengkap- bocornya-91-juta-data-akun-tokopedia
Dasmo, D., & Wati, S. (2023). Penguatan literasi data
dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Prosiding Seminar Nasional Sains, 4(1), 65–69. https://proceeding.unindra.ac.id/index.php/sinasis/article/download/7108/2461
Febriani, D. R., et al. (2025). Peran literasi digital
dalam pembentukan etika sosial di dunia maya pada siswa SD. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 10(1),
858–865. https://doi.org/10.29303/jipp.v10i1.2962
FTMM Unair. (2024). Literasi data dan sains data dalam
kehidupan sehari-hari. https://ftmm.unair.ac.id/literasi-data-dan-sains-data-dalam-kehidupan/
Gramedia. (2024). Pengertian literasi digital: Komponen,
Manfaat, dan Upaya peningkatan https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-literasi-digital/
Muhammad Fazil Irvan Putra. (2025).
Pentingnya literasi data untuk kesuksesan di era digital. FTMM Unair. https://ftmm.unair.ac.id/pentingnya-literasi-data-untuk-kesuksesan-di- era-digital/
Syilfia, A., et al. (2021). Tanggung jawab yuridis PT.
Tokopedia atas kebocoran data pribadi dan privasi konsumen dalam transaksi
online. Bhirawa Law Journal, 2(1),
22–27. https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/blj/article/download/5850/pdf/27662
Komentar
Posting Komentar